Ini Penguasa Bisnis Sabun Mandi di Indonesia

Jumat, 07 Agustus 2026 20:10 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

Unilever-business-retail-UK-1.jpg

Jatengaja.com -  Sebagai produk yang digunakan untuk kebutuhan mandi sehari-hari, pasar  sabun mandi relatif tetap terjaga karena dipakai  hampir seluruh lapisan masyarakat.

Pada 2025, total nilai penjualan  produk mandi dan kebersihan (bath and shower) di Indonesia mencapai sekitar Rp129,59 triliun, meningkat sekitar 2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pediningkatan ini  didukung oleh jumlah penduduk Indonesia yang saat ini telah mencapai sekitar 286 juta jiwa, sehingga kebutuhan terhadap produk kebersihan, seperti sabu man tetap tinggi.

Dilansir dari Trenasi.id, jaringan Jatengaja.com,  PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melalui produk Lifeboy, Lux, Dove, masih mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar sabun mandi nasional. 

Hingga tahun 2025,  perusahaan tersebut masih menjadi penguasa  pasar sabun mandi nasional, meski  pangsa pasarnya mengalami penurunan cukup signifikan dalam lima tahun terakhir.

Pada 2020, Unilever menguasai sekitar 37% pasar sabun mandi Indonesia, tapi pada tahun 2025 angka tersebut turun menjadi sekitar 24%. Penurunan tersebut tidak sepenuhnya berpindah kepada satu pesaing tertentu, tapi  tersebar ke berbagai perusahaan.

Fenomena ini mengindikasikan pasar sabun mandi Indonesia mulai bergeser dari dominasi beberapa pemain besar menuju pasar yang lebih terbuka dengan banyak merek yang mampu memperoleh pangsa konsumen.

Meski pangsa pasar perusahaan induknya menyusut, Lifebuoy tetap mempertahankan status sebagai merek sabun mandi paling kuat di Indonesia berdasarkan Top Brand Index (TBI) 2025. 

Keunggulan Lifebuoy terutama berasal dari citranya sebagai sabun antibakteri yang berfokus pada perlindungan kesehatan keluarga. Positioning tersebut membuat merek ini tetap relevan setelah pandemi sekalipun.

Di sisi lain, Lux masih bertahan sebagai salah satu merek premium yang dikenal melalui citra kemewahan, aroma khas, dan pengalaman mandi yang lebih elegan.

Peta persaingan terlihat berbeda ketika melihat penjualan melalui kanal digital. Data penjualan Shopee pada kuartal II 2025 menunjukkan merek lokal mulai mampu menantang dominasi perusahaan besar.

Di platform tersebut, Pyary menjadi merek sabun mandi dengan pangsa pasar terbesar sebesar 9,46%. Posisi berikutnya ditempati Biore 6,73%. Dominasi Pyary di kanal e-commerce menunjukkan perilaku konsumen Indonesia mulai berubah. 

Platform digital memberi peluang lebih besar bagi merek lokal untuk membangun basis pelanggan tanpa harus memiliki jaringan distribusi tradisional sebesar perusahaan multinasional.

Strategi pemasaran digital, promosi melalui media sosial, serta pemanfaatan influencer menjadi faktor yang membantu merek baru berkembang lebih cepat dibanding era sebelumnya.

Meski menghadapi tekanan kompetisi, Unilever Indonesia berhasil menutup 2025 dengan kinerja yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, perusahaan membukukan penjualan bersih sebesar Rp31,94 triliun, tumbuh 4,34% secara tahunan.

Laba bersih mencapai Rp3,53 triliun, naik 21,8% dibanding 2024 dan Free Cash Flow sebesar Rp4,9 triliun, meningkat sekitar 1,7 kali lipat.

Persaingan industri sabun mandi Indonesia kini tidak lagi hanya ditentukan oleh luasnya jaringan distribusi. Transformasi digital membuat strategi pemasaran melalui media sosial, platform e-commerce, hingga kolaborasi dengan kreator konten menjadi semakin penting dalam memenangkan konsumen.

Di sisi lain, produsen juga berlomba menghadirkan inovasi formula, manfaat kesehatan kulit, kandungan alami, hingga pengalaman penggunaan yang lebih premium.

Kondisi tersebut membuat pasar sabun mandi Indonesia menjadi semakin dinamis. Unilever memang masih mempertahankan status sebagai pemimpin pasar pada 2025, tetapi penurunan pangsa pasar dari 37% pada 2020 menjadi 24% pada 2025 menunjukkan bahwa dominasi perusahaan tidak lagi sekuat beberapa tahun lalu.

Ke depan, persaingan diperkirakan akan semakin terbuka seiring berkembangnya merek lokal, meningkatnya penjualan melalui e-commerce, serta perubahan preferensi konsumen yang semakin mengutamakan inovasi, kualitas, dan nilai tambah produk dibanding sekadar popularitas merek. (-)

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 07 Aug 2026