Atasi Abrasi dan Rob di Sayung Demak, Pemprov Jateng Bangun Hybrid Sea Wall

Selasa, 20 Oktober 2026 22:10 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

demak tanggul.jpg
Atasi Abrasi dan Bajir Rob di Sayung Demak, Pemprov Jateng Bangun Hybrid Sea Wall atau tanggul pantai. (dok. Humas Pemprov Jateng)

Demak, Jatengaja.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) membangun hybrid sea wall atau tanggul pantai berbasis solusi alam di Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. 

Pembangunan tanggul pantai sepanjang 930 meter tersebut untuk mengurangi ancaman abrasi, gelombang laut, dan banjir rob yang sering melanda wilayah Kecamatan Sayung.

Kepala Bidang Sungai, Bendungan, dan Pantai pada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Jateng, Andis Setiyo Septiyantok menyatakan, tanggul pantai dirancang tidak hanya mengandalkan konstruksi beton, tetapi juga mendukung pertumbuhan mangrove sebagai pelindung alami kawasan pesisir. 

“Beton ini untuk menahan gelombang laut. Nanti di belakangnya akan ditumbuhi mangrove, yang diharapkan bisa menahan gelombang laut, menahan abrasi, dan mengembalikan garis pantai atau tanah yang hilang,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).

Lebih lanjut, ia menjelaskan pembangunan tersebut memiliki panjang total sekitar 930 meter. Pekerjaan meliputi bangunan utama sepanjang sekitar 700 meter, serta bangunan groin atau pemecah gelombang sepanjang lebih dari 200 meter. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada 26 November 2026.

Menurutnya, sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi, pendekatan hybrid sea wall menggabungkan perlindungan melalui konstruksi beton dengan pemulihan vegetasi pesisir. 

“Beton berfungsi melindungi mangrove yang masih tumbuh agar dapat berkembang hingga besar, kemudian menjadi benteng alami untuk menghadapi gelombang laut,” ujar Andis.

Ia menyatakan keberadaan mangrove juga diharapkan membantu menahan dan menangkap sedimen, sehingga daratan pesisir yang terkikis dapat terbentuk kembali. 

Dalam jangka panjang, pembangunan itu ditujukan untuk mengurangi abrasi dan rob, sekaligus menahan laju air laut yang masuk ke daratan.

“Kalau mangrove saja yang ditanam, otomatis nanti tidak bisa sampai besar. Harapannya, ini sebagai pelindung agar mangrovenya bisa besar, kemudian menjadi pelindung alami terhadap pantai-pantai kita,” jelasnya.

Untuk tahun ini, pembangunan hybrid sea wall baru menjangkau Desa Surodadi. Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan usulan dan realisasi anggaran.

“Harapannya bisa dibangun secara menyeluruh, agar menjadi solusi terkait abrasi di sini,” harapnya.

Sementara, Kepala Desa Surodadi, Supriyanto, menyatakan pemerintah desa bersama masyarakat mendukung pelaksanaan proyek, termasuk membantu kelancaran pekerjaan dan distribusi material di lokasi.

Supriyanto berharap, pembangunan tidak berhenti pada tahap yang saat ini dikerjakan, karena  jarak kawasan yang perlu dilindungi di wilayah desanya mencapai sekitar dua kilometer.

“Pembangunan 930 meter, belum mencakup seluruh kawasan yang membutuhkan perlindungan. Kami berharap pembangunan hybrid sea wall dilanjutkan, karena sangat membantu mengurangi abrasi, paling tidak agar kami tetap bisa bertahan dengan baik seperti dulu,” kata Supriyanto.

Ia menambahkan abrasi menjadi persoalan serius di kawasan pesisir Demak. Selain Sayung, wilayah pesisir Kecamatan Karangtengah, Bonang, dan Wedung juga menghadapi persoalan serupa.

“Kami berharap penanganan abrasi dilakukan secara menyeluruh, agar perlindungan di satu kawasan tidak membuat wilayah pesisir lain luput dari perhatian,” harapnya. (-)